Gaya Busana Gaya BusanaTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
general

Hijab dan Cerita dari Kenyam: Gaya Busana yang Tak Lagi Monoton

Observasi perubahan gaya busana hijab di Kenyam, dari pengaruh media sosial hingga ekspresi diri kaum muda.

9 May 2026 · 2 menit baca · oleh Tio Subagyo
Hijab dan Cerita dari Kenyam: Gaya Busana yang Tak Lagi Monoton

Waktu itu saya duduk di teras rumah di Kenyam, ngeliatin ibu-ibu dan remaja putri lewat di depan. Dulu, hampir semua hijab yang saya lihat berwarna gelap— hitam, cokelat tua, atau biru navy, dengan model yang itu-itu aja. Sekarang pemandangannya beda. Ada yang pake pashmina warna pastel dililit longgar, ada juga yang tampil dengan hijab segi empat motif bunga kecil dipadukan gamis potongan kekinian.

Perubahan ini gak instan; perlahan saya sadari sejak beberapa tahun terakhir, terutama setelah anak muda di sini mulai sering berselancar di media sosial. Saya ingat betul tahun 2020, saat baru mulai menulis, banyak teman di grup WhatsApp lokal bertanya cara memakai hijab ala hijabers yang mereka lihat di Instagram. Toko-toko kecil di Kenyam pun mulai jual aksesori seperti bros anti-mainstream dan magnet penahan jilbab.

Dulu dan Kini: Pengaruh Media Sosial terhadap Gaya Hijab

Ini bukan soal ngikutin selebriti, melainkan cara untuk mengekspresikan diri tanpa ninggalin nilai-nilai berbusana muslim. Tren hijab layering misalnya, pake inner dan outer dengan warna kontras, jadi populer karena mudah ditiru dan nyaman untuk aktivitas sehari-hari kayak ke pasar atau ke ladang. Di luar itu, forum online seperti grup Facebook Komunitas Hijab Nusantara juga punya andil. Banyak anggota yang berbagi tutorial video pendek, dari cara bikin hijab turban sampe trik pake ciput ninja biar rambut tetep rapi.

Akhirnya, hijab di Kenyam gak lagi monoton. Sekarang saya bisa nemu pelajar SMK pake hijab syar’i lebar warna krem dengan rok panjang, sementara di sisi lain, mahasiswi kampus keagamaan tampil dengan hijab segi empat yang dibiarin tumpuk-tumpuk. Satu hal yang menarik, meski pengaruh dari luar begitu deras, orang-orang tetap milih sesuai kenyamanan dan budaya lokal. Misalnya, kain katun yang adem lebih laku di sini ketimbang bahan satin yang licin. Dulu saya kira tren ini cuma milik kota besar kayak Jakarta atau Surabaya, tapi ternyata Kenyam punya dinamikanya sendiri.

Setelah enam tahun ngamatin, saya percaya busana hijab gak punya satu aturan baku. Ia bergerak kayak sungai, bercabang, berkelok, tapi tetep mengaliri keyakinan yang sama. Mungkin di lain waktu, ketika lekuk tren berubah, kita bakal liat kejutan baru lagi di sudut-sudut kota kecil kayak Kenyam. Yang pasti, perbincangan tentang hijab di ruang digital udah memperkaya cara kita berpakaian tanpa harus ninggalin akar.

Tag: #hijab #fashion muslim #gaya busana #tren lokal