Gaya Busana Gaya BusanaTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
general

Belanja Baju Murah di Kenyam: Antara Gaya dan Kantong

Cerita pengalaman Tio Subagyo berburu baju murah di Kenyam, dari pasar tradisional hingga tren thrift yang viral di media sosial.

13 Apr 2026 · 2 menit baca · oleh Tio Subagyo
Belanja Baju Murah di Kenyam: Antara Gaya dan Kantong

Hujan gerimis sore itu menemani langkah saya menyusuri lapak pakaian bekas di pinggir jalan Kenyam. Di antara tumpukan kemeja flanel dan jaket denim, saya menemukan sebuah kemeja kotak-kotak bermerek asing, masih mulus, dengan harga dua puluh ribu rupiah. Dulu saya berpikir gaya busana murah hanya berarti kualitas rendah. Tapi setelah bertahun-tahun berburu, saya sadar bahwa pakaian murah bisa jadi kanvas ekspresi yang tak kalah menarik.

Dari Pasar ke Layar: Trik Memadukan Pakaian Murah

Kunci utama memadukan baju murah bukanlah soal merek, melainkan bagaimana kita membaca potensi setiap item. Saya punya kebiasaan memotong lengan kemeja longgar agar lebih pas, atau menambahkan sabuk kulit bekas untuk memberi struktur pada dress jumbo. Di Kenyam, komunitas Facebook lokal sering saling bertukar tips: celana cargo bekas dipadu kaos polos hasil thrift, lalu sepatu sneaker kondisi second yang masih layak pakai. Tren ini makin ramai sejak beberapa akun Instagram viral bangeet menunjukkan padu padan pakaian di bawah lima puluh ribu rupiah.

Menurut Wikipedia Indonesia, praktik thrifting atau berburu pakaian bekas telah menjadi bagian dari budaya fashion berkelanjutan. Di Kenyam, pasar loak akhir pekan selalu ramai pembeli muda yang datang bukan hanya karena harga murah, tapi karena tantangan menemukan potongan unik. Saya sendiri pernah mendapat jaket kulit sintetis dengan harga sebungkus rokok, lalu sebntar memakainya ke acara kumpul komunitas. Nggak ada yang tahu harga aslinya; yang mereka lihat hanya gaya Soal ini, saya pernah singgung di gaya busana.

Yang menarik, media sosial justru mendorong keterbukaan soal harga murah. Alih-alih malu, banyak pengguna TikTok dan Instagram justru bangga memperlihatkan total belanja yang sedikit. Mereka menunjukkan bahwa tidak perlu merogoh kocek dalam untuk tampil modis, asal tahu cara memadukan warna, tekstur, dan aksesori. Di grup diskusi busana murah, obrolan sering berputar soal merek lokal yang kualitasnya setara dengan produk mahal, atau cara mengubah kemeja polos jadi lebih edgy dengan ekor baju diikat.

Meski begitu, tetap ada tantangan. Pakaian murah rentan cepat luntur atau jahitannya longgar. Solusinya: pilih bahan katun atau denim tebal, jahit ulang kancing yang longgar, dan cuci dengan air dingin. Saya selalu membawa senter kecil saat berburu di tumpukan pakaian bekas untuk memeriksa noda atau sobekan. Kuncinya adalah kesabaran dan sedikit kreativitas.

Ibu-ibu dan remaja memilah tumpukan baju bekas di pasar loak Kenyam

Sepulang dari pasar sore itu, saya menggantung kemeja kotak-kotak di lemari, bersiap memadukannya dengan celana jeans robek hasil thriftan bulan lalu. Gaya busana murah bukan tentang berapa banyak yang kita keluarkan, melainkan bagaimana setiap helai bercerita tentang perjalanan dan pilihan yang kita buat. Kenyam mengajarkan saya bahwa keindahan bisa ditemukan di tumpukan diskon, asal kita mau memandangnya dengan cara berbeda.

Untuk konteks lebih: sumber resmi

Tag: #gaya busana #fashion murah #thrifting #tren lokal #komunitas online