Gaya Busana Kita Sekarang: Antara Identitas dan Tekanan Linimasa

Beberapa minggu lalu saya jalan-jalan ke Botani Square, mal yang tidak terlalu jauh dari rumah saya di Bogor. Bukan untuk belanja, hanya menemani teman yang ingin mencari jaket. Tapi yang menarik perhatian saya bukan jaketnya, melainkan cara orang-orang berpakaian di sana. Ada yang datang dengan outfit yang tampak seperti langsung keluar dari feed Instagram, lengkap dengan tote bag kanvas dan sepatu chunky. Ada yang masih setia dengan kaos polos dan celana jeans lusuh. Dan ada satu dua orang yang mengenakan pakaian batik modern, dipadukan dengan sneakers putih bersih. Semua itu terjadi dalam satu mal, pada satu sore yang sama.
Saya jadi berpikir: gaya busana kita sekarang ini sedang berada di persimpangan yang menarik.

Ketika Linimasa Jadi Lemari Pakaian
Tidak bisa dipungkiri, media sosial mengubah cara kita memandang pakaian. Dulu, tren busana butuh waktu berbulan-bulan untuk turun dari panggung mode internasional ke pasar lokal. Sekarang, sebuah gaya yang muncul di TikTok hari ini bisa sudah direplikasi jutaan orang dalam hitungan minggu, termasuk di kota-kota seperti Bogor, Malang, atau Makassar.
Saya sendiri pernah tergoda. Sekitar dua tahun lalu, saya membeli celana kargo lebar karena melihatnya terus muncul di linimasa. Waktu itu rasanya seperti keputusan yang sangat logis, semua orang memakainya, konten kreator yang saya ikuti memakainya, bahkan teman-teman mulai memakainya. Tapi begitu celana itu tiba di tangan saya dan saya coba di depan cermin, ada sesuatu yang terasa tidak pas. Bukan karena ukurannya salah, tapi karena itu bukan saya.
Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa ada jarak yang cukup lebar antara "tren yang sedang ramai" dan "gaya yang benar-benar cocok untuk seseorang". Jarak itu sering kali tidak terlihat ketika kita sedang tenggelam dalam guliran konten tanpa henti.
Gaya Busana Sebagai Pernyataan Diri, Bukan Seragam Sosial
Yang menarik dari komunitas fashion lokal Indonesia, terutama yang berkembang di platform seperti Twitter atau Discord, adalah munculnya kesadaran kolektif untuk tidak sekadar mengikuti arus. Ada komunitas yang secara aktif mendiskusikan "personal style", sebuah konsep yang dulu terasa elitis tapi kini makin membumi.
Menurut laporan dari Kompas, tren busana di Indonesia memang semakin beragam dan tidak lagi terpusat pada satu estetika tunggal. Generasi muda kini lebih berani mencampur elemen tradisional dengan potongan kontemporer, atau memilih pakaian preloved sebagai bentuk ekspresi sekaligus pilihan yang lebih bertanggung jawab secara lingkungan.
Saya melihat ini juga di lingkungan sekitar saya. Seorang teman yang bekerja sebagai barista di Bogor Barat punya gaya yang bisa saya sebut "utilitarian tenang": kemeja flannel, celana chino, sepatu boots ringan. Tidak ada yang mahal, tidak ada yang mengikuti tren spesifik, tapi semuanya terasa kohesif dan benar-benar mencerminkan siapa dia.
Itu, menurut saya, bentuk gaya busana yang paling jujur.

Tekanan untuk Selalu Terlihat "Relevan"
Tapi tentu saja, tidak semua orang berada di posisi yang nyaman untuk mengabaikan tekanan tren. Bagi banyak orang, terutama yang aktif di media sosial atau bekerja di industri kreatif, penampilan adalah bagian dari modal sosial. Terlihat "relevan" secara visual bisa berarti peluang kolaborasi, kepercayaan klien, atau sekadar diterima dalam lingkaran pergaulan tertentu.
Di sinilah gaya busana menjadi sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar soal kain dan warna. Ia menjadi negosiasi terus-menerus antara siapa kita, siapa yang kita ingin orang lain lihat, dan apa yang sedang dirayakan oleh zaman ini. Saya tidak punya jawaban tunggal untuk itu.
Tapi setiap kali saya berdiri di depan lemari pagi hari, saya coba tanya satu hal sederhana: apakah saya memakai ini karena saya suka, atau karena saya takut tidak ikut? Pertanyaan kecil itu, ternyata, cukup untuk membuat pilihan busana harian terasa sedikit lebih ringan.
Preloved dan Thrift: Ketika Pakaian Bekas Menjadi Pilihan Sadar
Salah satu pergeseran paling nyata dalam lanskap busana Indonesia beberapa tahun terakhir adalah naiknya pamor pakaian preloved dan thrift. Ini bukan lagi soal keterbatasan anggaran semata. Di kota-kota seperti Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta, berburu pakaian bekas kini menjadi ritual yang disengaja dan bahkan dibanggakan.
Pasar seperti Pasar Senen di Jakarta atau kawasan Cibadak di Bandung sudah lama menjadi surga bagi pemburu barang bekas. Tapi yang berubah adalah siapa yang datang ke sana. Kalau dulu segmen pembelinya didominasi oleh mereka yang mencari harga paling murah, sekarang banyak anak muda dengan daya beli yang sebenarnya cukup untuk membeli baru, tapi memilih datang ke sana karena alasan yang beda: keunikan, keberlanjutan, dan kepuasan menemukan sesuatu yang tidak bisa ditemukan di mal mana pun.
Platform digital juga mempercepat fenomena ini. Carousell, Preloved Indonesia di Facebook, hingga akun-akun Instagram seperti yang dijalankan oleh komunitas thrifter di Surabaya membuktikan bahwa pasar sekunder pakaian di Indonesia punya ekosistem yang sehat dan terus tumbuh. Baju vintage dari era 80-an atau 90-an, jaket bomber bekas dengan patch orisinal, atau kemeja flanel bermotif yang sudah tidak diproduksi lagi jadi incaran karena menawarkan sesuatu yang langka di era fast fashion: kekhasan.
Tentu ada ironi kecil di sini. Ketika thrifting menjadi tren, ia berisiko mengalami nasib yang sama dengan tren lainnya, direproduksi secara massal, kehilangan esensinya. Beberapa merek fast fashion mulai menjual pakaian dengan estetika "vintage" yang dirancang agar terlihat seperti barang bekas. Tapi bagi mereka yang benar-benar menekuninya, perbedaan antara yang asli dan yang tiruan itu terasa jelas di tangan.
Busana Daerah yang Bernegosiasi dengan Modernitas
Di luar perdebatan soal tren global, ada percakapan lain yang sama pentingnya dan sering luput dari sorotan: bagaimana busana tradisional Indonesia menemukan tempat baru di tengah selera yang terus berubah.
Batik adalah contoh yang paling mudah dirujuk, tapi ceritanya jauh lebih kaya dari sekadar "batik sekarang bisa dipakai kasual". Desainer seperti Didiet Maulana lewat label IKAT Indonesia menunjukkan bahwa tenun tradisional dari berbagai daerah, mulai dari tenun Sumba hingga lurik Yogyakarta, bisa dipotong dan disusun dengan cara yang sama sekali tidak terasa kaku atau seremonial. Hasilnya adalah pakaian yang bisa masuk ke konteks urban tanpa harus kehilangan identitas asalnya.
Yang lebih menarik adalah apa yang terjadi di tingkat yang lebih akar rumput. Di Toraja, pengrajin kain Sa'dan mulai menerima pesanan dari pembeli muda yang ingin bahan tenun itu dijahit menjadi jaket atau rok midi, bukan hanya selendang atau baju adat. Di Lombok, motif tenun Sukarara muncul di tote bag dan sepatu yang dijual di toko-toko butik di Senggigi. Proses ini tidak selalu mulus dan sering memunculkan pertanyaan soal autentisitas serta siapa yang berhak mendefinisiin ulang sebuah warisan.
Tapi justru di situ letak ketegangan yang produktif. Busana daerah yang membeku dalam satu bentuk bisa kehilangan relevansi, sementara busana daerah yang bernegosiasi dengan zaman, meski kadang kontroversial, setidaknya terus hidup dan terus dibicarakan. Ketika seorang pemuda di Makassar memadukan baju bodo dengan jeans slim fit untuk kondangan, ia sedang melakukan sesuatu yang generasi sebelumnya mungkin tidak terbayangkan: menjaga tradisi dengan cara yang paling personal. Dan itu, menurut saya, jauh lebih berarti dari sekadar ikut-ikutan tren yang muncul di linimasa sebntar lalu menghilang.